Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo: Dengan konsep 4 M (membersihkan, menanam, menjaga dan melestarikan) bisa meminimalisir bencana yang kerap terjadi di negeri kita akhir-akhir ini dan alam ini tetap terjaga dengan kesadaran penuh dari manusianya sendiri
 
    Selayang Pandang Tentang Masyarakat Betawi

    Dibawah dentuman peruru meriam yang ditembakkan darikapar Kompeni Dagang Beranda ( v.o.c ), tanpa dapat memberikan perrawanan yang cukup berarti, pangeran Jayakarta, penguasa Jayakarta terpaksa menyingkir bersama seruruh rakyatnya. pada tangg'ar30 Mei 161g dengan pongah J.p. coen, yang memimpin penyerangan ilu, menyatakan seruruh kota sudah sepenuhnya dikuasai.'semua bangunan hancur rata dengan tanah, kecuali beberapa rumah yang dihuni orang-orang cina.

    Masih pada tahun itu pula Kompeni membangun sebuah Kastir ( puri, casfle ), berbentuk segi empat. setiap sudutnya diperkuat dengan Baluarti ( Bastion ), yang masing-masing dilengkapi dengan beberapa buah meriam" Luasnya kurang lebih 2500 tumbak persegi, atau kurang lebih 3,5 hektar. Sisi sebelah utara terletak tepat di tepi pantai, sebelah Barat di tepi timur muara ciliwung. Di sisi-sisi luar sebelah selatan dan timur digali parit cukup lebar dan dalam untuk memperkuat ketahanan Kastil bila ada serangan dari Mataram yang sangat dikhawatirkan.

    Pada tahun-tahun pertama kastil menyandang nama resmi Batavia. Dalam pelaksanaan pembangunannya.Kompeni mengerahkan tenaga kerja cina. Mula-mula didatangkan dari Banten, kemudian didatangkan langsung dari negerinya.

    Dengan perencanaan yang cukup matang seranjutnya dibangun kota Perbenteng, memanjang kesebelah selatan, kurang lebih dari pasar ikan sampai Pinangsia sekarang.

    Pada tahun 1628 dan 1629 pembangunannya terhenti, karena bertubi-tubi diserang pasukan Mataram. Kedua serangan itu gagal, karena Mataram tidak memiliki angkatan laut yang cukup tangguh disamping kelemahan dalam logistik.

    Mungkin menyadari.keremahan-kelemahan tersebut, sultan Agung melakukan upaya-upaya konsolidasi, antara lain menata kembali pemerintahan di wilayah kekuasaannya di Jawa Barat, Kekuasaan Bupati sumedang dikurangi, Garuh dipecah menjadi empat Kabupaten, yaitu Bojonglopang (Kertabumi), lmbanagara, Utama dan Kawasen. Kabupaten ukur dihapuskan pada tahun 1632. Bekas wilayahnya dijadikan dua kabupaten, yaitu Kabupaten Bandung dan Kabupaten parakan Muncang. Tahun 1640 di bangun koloni Mataram didaerah Karawang. Tampaknya sultan Agung merencanakan untuk menyerang Batavia untuk ketiga kalinya, akan tetapi ia wafat pada tahun 164s. penggantinya adarah sultan Ambngkurat l.

    Amangkurat memerintahkan pemindahan sebagian penduduk Banyumas ke daerah Karawang, dipimpin oleh Adipati surengrana dari wirasaba. Kemudian ditambah dengan pemindahan penduduk Kertabumi dibawah pimpinan Adipati Singaperbangsa.

    Mataram menganggap wilayah Karawang itu demikian pentingnya, sehingga secara taktis langsung ditempatkan dibawah perintahnya, dengan sebutan siti Nagara Agung, dengan batas sebelah timur Kali cilamaya dan sebelah Barat Kali Cipamingkis, sebagaimana tercantum pada piagam yang ditulis pada lembaran tembaga, yang ditemukan di kandang sapi, purwakarta. Negara Agung adalah istilah daerah pemerintahan atau teritorial Mataram, yakni daerah sekitar kediaman Raja ( ommelanden ). sebutan lain bagi daerah Karawang oleh Mataram adalah Siti Gung Bingas Klien.

    Mengetahui tindakan Mataram disekitar Karawang, dengan memindahkan sejumlah besar ( menurut ukuran waktu itu ) penduduk dari Banyumas dan Kertabumi ( Galuh ), Banten pun tidak tinggal diam, karena menganggap Karawang termasuk wilayah kekuasaannya. oleh karena itu maka koloni Banten disebelah hilir citarum yang dilakukan pada tahun 1622dan 1633, dan di cikalong pada tahun 1636, berangsur-angsur dikembangkan. citeureup dan cileungsi serta ciluar pun dijadikan koloni Banten.

    Lalu lintas antara Banten dengan daerah koloninya tersebut lebih banyak dilakukan malalui Muaraberes, yang terletak antara Kaungpandak dan Bojong Gede. Jalan tersebut oleh orang-orang Beranda disebut "De oude Bantamsche weg", yang berarti jalan Banten lama, Jaran ini mulai dari Pagutan, ditepi Cisadane, melalui Muara Beres. Di Muara Beres jalan bercabang, ke Jakarta dan (jaman Pajajaran ) ke Pakuan, melalui Ciluar. Di Ciluar jalan bercabang tiga, ke selatan terus ke Pakuan, ke Karawang melalui Cileungsi dan ke Cianjur melalui Citeureup.

    Pada paro kedua abad ketujuh belas ditempat-tempat tersebut dua kekuatan, Mataram dan Banten, saling menyilang jalan. pada tahun 1661 dan 1675 Mataram berusaha menguasai Muara Beres.

    Kompeni sebagai kekuatan ketiga selama itu belum cukup banyak menaruh perhatian terhadap daerah-daerah yang dianggap cukup jauh dari kota Batavia. Kegiatannya lebih banyak dikonsentrasikan pada upaya memperkuat pertahanan, antara lain dengan membangun kubu-kubu di tempat-tempat yang dianggap strategis, seperti diAncol, Angke dan Marunda. Kubu Rijswijk dibangun dekat kali Krukut, ditengah persawahan; Vijfhoek dipersimpangan jalan ke Angke dan ke Grogol; Batenburg disebelah selatan kota; Noordwijk dibangun untuk melindungi peternakan sapi ditempat yang sekarang menjadi lapangan Banteng; Zevenhoek disebelah timurAngke. sebuah kapal layar berbentuk langsing-panjang yang sudah tidak laik laut dijadikan kubu di muara Angke. Kapal demikian itu oleh orang-orang Belanda disebut Fluit ( Fluitschip), yang dengan lidah bangsa kita menjadi pluit. Kawasan sekitar tempat tersebut sampai sekarang dikenal dengan nama Pluit. Kubu di Marunda kemudian dipindahkan ke tepi barat kali Bekasi.

    Kecuali gangguan keamanan yang dilakukan secara sporadis oleh gerilyawan Banten dan pasukan budak-budak yang melarikan diri, selama itu tidak pernah ada serangan yang berarti terhadap kota berbenteng Batavia, baik dari fihak Banten maupun Mataram. Dengan demikian maka kekuatan angkatan perang Kompeni dapat lebih.dikonsentrasikan untuk merebut kota Malaka dari orang-orang Portugis, yang sudah lebih dari seabad menguasai Selat Malaka, urat nadi pelayaran niaga yang menghubungkan Asia Timur dengan dunia Barat.

    Tahun 1641 Kompeni Belanda berhasil menguasai kota Malaka. Orang-orang Portugis yang tertawan diangkut ke Batavia, Demikian pula abdiabdinya yang berasal dari berbagai macam bangsa, seperti orang-orang dari Andaman, Goa, Malabar dan Afrika yang telah banyak menyerap pengaruh kebudayaan Portugis dan beragama Katolik. Mereka kemudian di merdekakan dan tidak sedikit yang diangkat menjadi tentara Kompeni, dengan syarat harus menganut Protestan. Dengan dikuasainya Malaka oleh Kompeni Belanda, maka berangsur-angsur orang Melayu berdatangan ke Batavia, dibawah pimpinan masing-masing pemimpin.

    Beberapa pemimpin orang Melayu itu kemudian memperoleh kedudukan tinggi dalam angkatan perang Kompeni, serta mempunyai pengaruh yang cukup besar, seperti halnya Wan Abdul Bagus yang diberi hak penguasaan kawasan yang sampaisekarang dikenaldengan sebutan Kampung Melayu, sebelah selatan Jatinegara yang zaman kolonial bernama Meester cornelis. Kompeni baru menaruh perhatian terhadap daerah-daerah pedalaman yang jauh dari ommelanden, setelah berhasil menundukan Makasar melalui tiga kali peperangan, yakni tahun 1653-16b5, 1660-1661 dan 1666-1667 yang berakhir dengan ditanda tanganinya perjanjian Bongaya. Angkatan perang kompeni semakin kuat dengan bergabungnya sejumlah orang-orang Makasar, Bugis dan lain-lain, setelah ditanda tanganinya perjanjian Bongaya itu, Mereka yang tidak mau menerima perjanjian tersebut masih terus melakukan perlawanan, diantaranya tidak sedikit yang menggabungkan diri kepada Banten. Ada pula yang memperkuat pasukan pangeran Trunojoyo dari Madura yang mengangkat senjata terhadap Mataram sejak tahun 1674.

    Menjelang berakhirnya abad ketujuh belas praktis Mataram dan Banten sudah berada dibawah pengaruh Kompeni Belanda, Seluruh wilayah Mataram di Jawa Barat resmi diserahkan kepada kompeni sebagai imbalan atas bantuan memadamkan pemberontakan pangeran Trunojoyo. Banten mengakui kedaulatan kompeni atas wilayah Jakarta dan sekitarnya dengan batas sebelah barat sampai Kali cisadane, sebagai imbalan atas bantuannya yang diberikan kepada sultan Haji dalam perang perebutan takhta dengan ayahnya sendiri, sultan Tirtayasa. Kedudukan kompeni semakin diatas angin setelah berhasil menghancurkan perlawanan Untung surapati di pasuruan, Jawa Timur. Untung surapati adalah bekas budak yang melarikan diri, kemudian menjadi Letnan dalam angkatan bersenjata Kompeni, selanjutnya memberontak dan memperoleh dukungan dari berbagai fihak, termasuk dari penguasa Mataram.

    Dengan demikian maka semakin leluasalah Kompeni membagi-bagikan tanah di Batavia dan sekitarnya, terutama kepada mereka yang dianggap berjasa dalam beberapa peperangan, termasuk kepala-kepala pasukan pribumi seperti Kapten Lampija, kepala pasukan orang-orang Bali yang memperoleh sejumlah tanah dikawasan Grogol, yang terletak sekitar benteng Zevenhoek dan kubu Buitenwacht. Untuk menutup biaya peperangan, penjualan tanahpun semakin banyak dilakukan, baik kepada orang-orang cina maupun kepada bangsa lain, terutama orang-orang Eropa. sejak tahun 1686 ditetapkan bahwa tidak diperbolehkan lagimemberikan tanah secara gratis, melainkan harus dibeli melalui pelelangan terbuka. pada tahun 1705 penjualan secara besar-besaran mulai berlangsung, antara lain kawasan Depok dan srengseng kepada chastelein, seorang anggota Dewan Hindia Kompeni. oleh chastelein tanah-tanah tersebut diwariskan kepada budak-budaknya yang dimerdekakan, dengan syarat harus menganut agama Kristen, Buat menggarap tanah pertanian yang demikian luasnya disekitar Batavia, para pemiliknya, terutama orang-orang Eropa, mendatangkan tenaga kerja dari berbagai daerah, yang berstatus sebagai budak.

    Muara sungai ciliwung dipenuhi lumpur akibat pembabatan hutan-hutan dan letusan Gunung salak pada tahun 1699. Bertahun-tahun setelah letusan gunung tersebut, aliran kali Ciliwung makin lama makin keruh, airnya semakin berkurang. Endapan lumpur menumpuk sepanjang saluran diseluruh kota, dan membentuk beting-beting didepan muara. paya-paya genangan air mandek menjadi tempat nyamuk-nyamuk berkembang biak dengan cepat. Berbagai penyakit timbul, menyerang penduduk kota. Malaria menjadi endemi. Tipes dan disentri terus menerus berkecamuk. Angka kematian semakin meningkat.

    Dalam suasana demikian itu orang-orang Belanda yang kaya berangsur-angsur pindah ke selatan kota, seperti weltevreden yaitu daerah Lapangan Banteng sekarang. Gubernur Jendral Van overstraten yang mewarisi kebangkrutan v,o.c dalam tahun 1797, mulai pula memindahkan kantor-kantor pemerintahan ke kawasan itu, pada tahun 1900. Lokasi ibukota pun menjadi berpindah. Tindakan itu dituntaskan oleh Daendels, pada tahun 1809. Ia pun menjatuhkan vonisnya bagi Batavia, yang semula diberi gelar "Ratu Timur", kemudian dicaci dengan sebutan "Kuburan di timur".

    Kastil, tembok dan benteng dihancurkan. parit-parit pun ditimbun. pada awal abad ke sembilan belas kota Batavia (lama) bukan lagi metropolis terkenal seperti masa lampau" Sebagian terbesar dari bangunan-bangunan yang penting- penting telah dirubuhkan, yang tinggal hanya gudang-gudang dan bangunan angkatan bersejata. Diantara yang dipertahankan terus adalah Gedung Balai Kota yang kini menjadi Museum sejarah Jakarta. Kota tinggal seperti diporak-porandakan. Prinsenstraat tak lebih dari sebuah jalan yang lengang, dengan beberapa buah rumah di kiri kanannya. Bahan-bahan bangunan bekas yang masih bisa dimanfaatkan, berangsur-berangsur diangkut, dijadikan bahan utama pembangunan gedung-gedung baru diweltevreden, antara lain bekas bangunan rumah sakit cina dan penjara wanita, dijadikan bahan untuk membangun Shouwburg (sekarang Gedung Kesenian Jakarta ), yang sampai hari inimasih berdiri.

    Akibat banyak penyalahgunaan wewenang dan korupsi hampir disemua bidang kegiatan yang dilakukan oleh para pejabat v.o,c., pada akhir abad ke delapan belas Kompeni dagang tersebut dinyatakan bangkrut. Kekayaannya diambil alih oleh pemerintah Belanda. wilayah Nusantara yang dikuasainya dijadikan daerah Jajahan negeri Belanda. dalam tahun 1807 diangkatlah Mr. Herman Willem Daendels menjadi Gubernur Jendral. Dibawah pemerintahannya, banyak perubahan di lakukan dalam bidang pemerintahan di Indonesia, termasuk di wilayah Batavia dan sekitarnya Antara lain dengan menempatkan seluruh pesisir utara Banten dibawah Jurisdiksi Batavia. Sebagai pengganti Daendels sebagai Gubernur Jenderal diangkat Jan Willem Jansens pada tahun 1811, Namun pada tahun itu pula tanah jajahan Belanda di Nusantara direbut oleh Inggris. Sebagai kepala pemerintahannya adalah T.S. Raffles, yang banyak pula melalukan reorganisasi. Baik Daendels maupun Raffles banyak melakukan penjualan tanah kepada fihak Swasta.

    Masa pemerintahan Inggris di Indonesia tidak berlangsung lama, dalam tahun 1816 kembali menjadi daerah kekuasaan Belanda. Sejak itu dimulailah masa pemerintahan Hindia Belanda. Untuk membagi kekuasaan di Nusantara antara Inggris dengan Belanda, pada tahun 1824 ditetapkan dalam perjanjian yang dikenal dengan sebutan Konvensi London.

    Berdasarkan konvensi tersebut secara berangsur-angsur Belanda berhasil menguasai seluruh Sumatera, dimulai dari pesisir sebelah timur, terutama daerah Riau kepulauan. Sejak waktu itulah secara berangsur-angsur penduduk Batavia bertambah dengan orang-orang dari Sumatera Timur. Sebagian dari mereka bergerak dalam bidang perdagangan sebagai pengusaha swasta. Merekalah yang mengembangkan kebudayaan bercorak Melayu di Batavia termasuk seni musik, tari dan teaternya.

    Referensi : Dinas Kebudayaan Dan permuseuman Provinsi DKI Jakarta, Ikhtisar Kesenian Betawi, 2003

    Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

    :: Lihat Artikel Lainnya

 


   
   

   

 
Crisis