Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo: Dengan konsep 4 M (membersihkan, menanam, menjaga dan melestarikan) bisa meminimalisir bencana yang kerap terjadi di negeri kita akhir-akhir ini dan alam ini tetap terjaga dengan kesadaran penuh dari manusianya sendiri
 
Artikel Anda

Tata Cara Perkawinan Betawi




Daerah khusus Ibukota Jakarta sebagai kota metropolitan merupakan tempat perpaduan adat-istiadat, gagasan-gagasan baik antar suku maupun antar bangsa. Demikian pula halnya apabila kita menengok sejarah awal perkembangan kaum Betawi tampaklah bahwa pembauran antar etnis tersebut telah mewamai pula sosok tubuh seni budaya Betawi.

Sesuai dengan proses alami pembauran tersebut mengkristal menjadi suatu produk budaya yang mandiri baik ditinjau dari segi karakter maupun perwujudannya. Salah satu wujud produk yang sampai saat ini dipelihara dan dikembangkan adalah adat dan upacara perkawinan Betawi.

Sekitar tahun 1930, pada dewasa ini adat dan upacara perkawinan Betawi menunjukkan beberapa perubahan dan pengembangan. Perubahan dan perkembangan tersebut antara lain mengenai adat kebiasaan sebelum perkawinan dan alat atau bahan kelengkapan upacara yang digunakan. Dapat disebutkan bahwa perubahan tersebut sifatnya umum sedangkan nilai-nilai hakiki yang terkandung didalam upacara perkawinan itu sendiri tetap berlangsung sesuai dengan tradisi masyarakat Betawi.

Adat dan upacara perkawinan pada masyarakat Betawi akan diuraikan sesuai dengan tahapan dan proses yang mengawalinya. Tahapan-tahapan tersebut diawali dengan masa perjumpaan dan pendekatan, lamaran sampai dengan aqad nikah yang merupakan resminya seorang pemuda dan seorang gadis menjadi suami istri serta keriaan atau pesta yang melengkapinya.

Tahapan-tahapan tersebut diurut dan diuraikan seperti berikut:

    1. Ngedelengin
    2. Ngelamar
    3. Bawa Tande Putus
    4. Piare Calon None Penganten
    5. Aqad Nikah:- Acare Membuka Palang Pintu.
    6. Acare Pesta Kebesaran
    7. Malam Negor
    8. Pulang Tige Ari dan Acare Lakse Penganten.

Adapun masing-masing tahapan tersebut, uraian selengkapnya adalah sebagai berikut

1. Ngedelengin

Sampai sekararrg dikalangan masyarakat Betawi dikenal istilah ngedelengin yaitu masa pendekatan dan penelaahan terhadap seorang gadis.

Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui secara lebih jauh tentang sifat dan keadaan seorang gadis yang bakal dijadikan istri. Adalah sesuatu yang wajar hal itu dilakukan dalam usaha orang tua atau laki-laki sebagai calon suami menyelidiki lebih dahulu latar belakang atau asal-usul bakal pasangan hidupnya. Tentu saja tindakan tersebut didasari oleh maksud-maksud baik agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kelak kemudian hari.

Dari hasil informasi yang dapat dikumpulkan temyata bahwa masa ngedelengin yang dilakukan semasa Betawi tempo dulu tidak semudah dan sesederhana seperti gambaran tersebut di atas.

Sesuai dengan zamannya, pada waktu itu tugas ngedelengin dipercayakan kepada orang ketiga yang biasa mengemban tugas tersebut yaitu Mak Comblang. Peranan Mak Comblang memiliki arti yang sangat penting dikalangan masyarakat Betawi dalam kaitannya dengan adat istiadat perkawinan.

Keadaannya sangat diperlukan karena hubungan antar anggota masyarakat khususnya tata cara pergaulan, antara pemuda dan pemudi masa lampau itu, dibatasi secara ketat oleh aturan adat yang telah mentradisi. Jadi fungsi Mak Comblang salah satu diantaranya adalah Sebagai penghubung antar anggota masyarakat yang mempunyai rencana untuk menikahkan anaknya.

Pada masa lampau setiap keluarga yang mempunyai anak laki-laki yang telah akil-baliq akan meminta bantuan Mak Comblang mencarikan seorang gadis untuk dijodohkan dengan anak laki-lakinya. Sebelum melakukan tugasnya Mak Comblang akan diberi penjelasan lebih dahulu mengenai sifat dan keadaan serta kemampuan atau keterampilan calon yang diinginkan. Di atas semua itu syarat yang dituntut terutama adalah ketaatan si gadis di dalam menjalankan perintah agama, ini merupakan unsur yang utama sesuai dengan keberadaan masyarakat Betawi yang religius. Dengan bekal syarat-syarat tersebut di atas Mak Comblang mulai melakukan tugas ngedelengin baik di sekitar kampung maupun di luar kampung sendiri tergantung kepada keadaan. Pencarian dari kampung-kampung tentu saja merupakan pekerjaan yang sulit, tetapi pada umumnya seorang Mak Comblang telah mempunyai informasi yang cukup mengenai setiap keluarga yang memiliki seorang anak gadis. Pengetahuan tersebut patut dimilikinya karena hampir semua anak gadis yang menjelang remaja jauh-jauh hari sudah dipingit atau selalu berada di dalam rumah di mana anak gadis itu ticlak dibenarkan berada di luar rumah apalagi ditempat-tempat umum.

Uraian di atas adalah gambaran ngedelengin yang dilakukan dari kampung-ke kampung dan kegiatan tersebut dilaksanakan secara menyeluruh oleh Mak Comblang.

Kadang-kadang ngedelengin juga dapat dilakukan ditempat-tempat perayaan atau pesta yang, diselenggarakan oleh anggota masyarakat setempat. Misalnya pada pesta pemikahan di mana terdapat acara malam pacar, yang biasanya pada acara tersebut berkumpul pemuda dan pemudi yang membantu si empunyai pesta memnpersiapkan keperluan pesta seperti antara lain menyiapkan puade, membuat kembang kelape untuk dekorasi dan sebagainya.

Dalam kegiatan tersebut tidak jarang terjadi si pemuda menemukan sendiri seorang gadis yang menarik hatinya. Akan halnya terjadi keadaan yang demikian tidak berarti bahwa si pemuda dapat dengan begitu saja bertegur sapa dan melakukan pendekatan sendiri, karena hal itu tidak dibenarkan oleh aturan adat.

Melainkan ia wajib melaporkan hal itu kepada orang tuanya yang pada gilirannya nanti si orang tua akan meminta jasa Mak Comblang untuk meneruskan ngedelengin yang telah dimulai oleh si pemuda tersebut.

Awal mula ngedelengin selain dilakukan oleh si pemuda yang mencari seorang gadis untuk calon istrinya, sering kali terjadi pula orang tua yang mempunyai anak laki-laki memasang mata mencari calon menantu yang cocok diantara sekian banyak gadis yang hadir dalam pesta atau perayaan. Setelah menemukan seorang calon menantu maka sesuai dengan adat kebiasaan, orang tua tersebut selanjutnya akan menugaskan Mak Comblang untuk ngedelengin secara lebih mendalam.

Dengan begitu dilihat dari awal kejadiannya terdapat tiga macam cara ngedelengin :

    - Pertama adalah tugas ngedelengin dari awal sampai akhir diserahkan kepada Mak Comblang.

    - Kedua adalah awal ngedelengin dilakukan sendiri oleh si pemuda dan melaporkannya kepada orang tuanya yang kemudian menugaskan Mak Comblang untuk meneruskan ngedelengin.

    - Ketiga adalah si orang tua mengintip seorang calon menantu perempuan dan setelah menemukan pilihan ia menugaskan Mak Comblang untuk meneruskan ngedelengin.

Jadi jelaslah dalam Tata cara ngedelengin meskipun yang mengawali si pemuda atau orang-tuanya, akan tetapi secara resmi ngedelengin tetap dikerjakan oleh Mak Comblang.

Alkisah setelah Mak Comblang menemukan seorang gadis yang sesuai dengan persyaratan yang diminta si pemberi tugas, segera ia melaporkan penemuannya dan menjelaskan hal ikhwal si gadis berikut keadaan orang-tuanya.

Apabila si orang-tua laki-laki menganggap bahwa calon yang disodorkan tersebut telah sesuai seperti yang diinginkan maka kemudian direncanakan kunjungan berikutnya ke rumah orangtua si gadis tersebut.

Dalam kunjungan yang kedua kalinya ini Mak Comblang ditemani oleh salah seorang anggota keluarga fihak orang-tua laki-laki. Sewaktu diterima oleh orang-tua si gadis maka pembicaraan pembukaan pun dimulai dan setelah sedikit basa-basi si Mak Comblang biasanya akan bertanya "Mane si anak ayam kite?"

Sesuai dengan adat kebiasaan, setelah mendenger pertanyaan tersebut maka orang-tua si anak ayam berkewajiban memanggil anak gadisnya untuk menemui Mak Comblang. Si gadis dengan malu-malu keluar menemui mereka dan langsung mencium tangan Mak Comblang serta utusan keluarga laki-laki tadi. Begitu selesai mencium tangan, mereka kemudian ia diberi hadiah sejumlah uang yang disebut ang pau. Hadiah uang tersebut khusus diperuntukkan si gadis sebagai perkenalan dan ungkapan rasa terima kasih karena utusan orang-tua laki-laki telah diterima ngedelengin.

Galibnya ngedelengin dilakukan berulangkali tergantung kepada kelancaran acara tersebut mengingat bahwa ngedelengin adalah masa pengkajian seorang calon istri.

Berdasarkan kepada informasi terdapat perbedaan mengenai jangka waktu masa ngedelengin yaitu bahwa tahap, ngedelengin bisa berlangsung selama satu atau dua bulan bahkan ada yang berlangsung sampai satu tahun. Agaknya variasi mengenai jangka waktu tahap ngedelengin ini sedikit banyak tergantung pula pada keadaan usia atau kesiapan si gadis dalam menghadapi jenjang pekawinan. Patut diketengahkan pula bahwa pada tahapan ini si gadis belum mutlak terikat oleh siapapun, jadi orang-tua si gadis dapat saja menerima lebih dari satu utusan yang berkunjung ngedelengin anak gadisnya. Banyaknya utusan yang berkunjung ngedelengin seorang gadis biasanya karena si anak perempuan tesebut termasuk seorang gadis lempolan.
 


   
   

   


   
 
Crisis